Pentingnya menemukan research gap untuk melakukan penelitian

Research gap atau kalau dibahasakan dalam Bahasa Indonesia itu kesenjangan penelitian, adalah bagian dari topik penelitian yang belum pernah, atau belum cukup, diteliti oleh peneliti sebelumnya — sehingga masih ada ruang untuk melakukan penelitian baru.

Dengan kata lain, research gap menunjukkan “lubang” dalam pengetahuan ilmiah yang ingin diisi oleh penelitian kita.

Dalam sebuah penelitian, research gap menjawab pertanyaan:
Apa yang belum diketahui atau belum dijawab oleh penelitian sebelumnya?

Menemukan research gap penting karena menjadi alasan utama kenapa penelitian kita perlu dilakukan.

Contoh Jenis-jenis Research Gap:
1. Kesenjangan Teoritis (Theoretical Gap)
Ada teori yang belum diuji dalam konteks tertentu, atau hasil penelitian sebelumnya saling bertentangan.
Contoh: Teori X menyatakan teknologi audit meningkatkan efisiensi, tapi ada penelitian lain yang tidak menemukan efek tersebut.

2. Kesenjangan Kontekstual (Contextual Gap)
Topik sudah diteliti, tetapi *belum dalam konteks wilayah, sektor, atau kondisi tertentu.
Contoh: Penggunaan ATLAS sudah banyak diteliti di perusahaan besar, tapi belum di lingkungan pendidikan tinggi atau instansi pemerintah.

3. Kesenjangan Metodologis (Methodological Gap)
Penelitian sebelumnya menggunakan metode yang kurang tepat atau terbatas.
Contoh: Penelitian terdahulu hanya menggunakan kuesioner, belum menggunakan pendekatan wawancara mendalam.

4. Kesenjangan Empiris (Empirical Gap)
Ada kekurangan data atau hasil empiris yang masih belum konsisten.
Contoh: Belum ada bukti nyata bahwa penggunaan ATLAS benar-benar berpengaruh terhadap kualitas audit.

Untuk lebih jelasnya saya beri contoh menggunakan penelitian saya dalam mencari research gap pada penelitian yg saya lakukan pada saat saya masih s2 dulu:

Saya mau meneleliti dengan judul seperti ini:
“Pengaruh penggunaan Audit Tools and Linked Archive System (ATLAS) terhadap kualitas audit dengan pengalaman auditor sebagai variabel moderator.”

Maka research gap-nya bisa seperti ini:
“Meskipun beberapa penelitian telah mengkaji penggunaan teknologi audit secara umum seperti CAATs (teknik audit berbantuan computer), penelitian yang secara khusus membahas pengaruh ATLAS terhadap kualitas audit di Indonesia masih terbatas. Selain itu, belum banyak studi yang mempertimbangkan pengalaman auditor sebagai faktor moderasi.”